Showing posts with label MotoGP. Show all posts
Showing posts with label MotoGP. Show all posts

Saturday, 25 February 2017

Rossi : “800 cc Takkan Lebih Pelan”

Sengaja akan saya bahas atikel lawas tentang perpindahan regulasi motogp dari musim 2006 ke 2007, yakni mesin yang semula berotot 990cc akan disunat menjadi 800cc, atau berkurang 1/5 isi silinder. Itung-itung flashback sejenak menunggu gelaran motogp musim 2017 berlangsung.

Peralihan ke mesin 800 cc dimaksudkan untuk meredam lagu motor motogp. Pasalnya, mesin 990 cc dinilai sudah mengancam keselamatan rider. Yang paling mendorong perubahan ini kematian Daijiro Kato pada 2003 di sirkuit Suzuka.

Namun Valentino Rossi menganggap aturan itu akan sia-sia. Menurutnya mesin baru tidak otomatis mengebiri putaran roda. Mesin 800 cc tetap tumbuh menjadi monster. “Di akhir musim 2007, waktunya akan sama dengan sekarang”, ujar Rossi.

Alasan Rossi simple. Ia mengacu pada kelahiran mesin 990 cc, power tertiggi diraih 220 dk. Dua tahn berikutnya, tenaga motor (motogp) sudah 250 dk. Terakhir Yamaha, Honda, dan Ducati mengaku YZR-M1, RC211V, dan GP6 sudah mengatrol 260 dk. Jadi tiap tahun aa tambahan 10 dk.

Nah, para ahli memprediksi mesin 800 cc aka mengumbar power sekitar 225 dk. Itu artinya sudah lebih besar ketimbang gnerasi awal msin 990 cc. Mereka pun meramal top speed mesin 800 cc kalah hanya 305 km/jam. Hampir tak berarti!

Rossi merasa regulasi tak bisa cuma hanua kapasitas mesin. Menurutnya, ban pun musti diatur. Misal, mengurangi jatah pemakaian ban untuk ltuuhan dan balap. Sebab, kian maju teknologi ban, laju motor otomatis terdongkrak. Terutama di tikungan. “Jika ini tidak diseesaikan, kita akan perlu run-off area 20-3- meter lebih jauh. Iyu artinya kita balap sementara penontonnya di kota lain.” ucap Rossi.

Satu lagi, mesin 800 cc jelas lebih ringan. Tapi dengan tenaga setara dengan 990 cc, ini bahaya. Sebab, motor jadi lebih rentan dan sulit ditunggangi.

Nah, lho?

Sunday, 17 August 2014

Terhentinya Rekor Marc Marquez Di Tangan Pedrosa

Sebelumnya, CZL mengucapkan Dirgahayu kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 69.

Sebagai pencinta/penikmat motoGP, pasti taulah bahwasannya Marc Marquez mencatatkan 10 kemenangan beruntun di kelas motoGP musim 2014. Di putaran yang ke 11, tepatnya mendarat di sirkuit Brno, Rep Ceko rekor Marc terhenti. Rekor ini terhenti oleh teammatenya di Repsol Honda, Dani Pedrosa. Dan ironisnya lagi, Marc finish di posisi keempat, tidak podium. Podium 2 dan 3 diisi oleh duet Movistar Yamaha, Valentino Rossi dan Jorge Lorenzo.

Awal race pasti banyak seperti dugaan awal, Marc pasti akan tak terbendung dan akan mengoleksi kemenangannya yang kesebelas secara beruntun. Karena, kondisi cuaca sirkuit yang sebelumnya sempat gerimis, menjadi cerah saat race kelas motoGP akan berlangsung. Nah, seperti yang terjadi di Le Mans Perancis beberapa race yang lalu, kondisi sirkuit yang sulit ditebak akan wet atau dry race, ternyata menjadi sangat terik dan Marquez juara seperti biasanya.

Sedang Dani Pedrosa bisa dikatakan sudah lama sangat tidak berada di puncak podium. Dani terakhir juara di seri Sepang Malaysia tahun 2013 kemarin. Jorge Lorenzo yang sempat menipiskan GAP dengan Dani di 5 lap akhir tidak sempat menyusul Dani. Valentino Rossi yang mengalami crash saat free practice dan mengalami cedera pada jari kelingkingnya berhasil menduduki podium ketiga. Duo Ducati Italiano Andrea Iannone dan Andrea Dovizioso yang lap awal sempat memimpin lomba dan brsaing sengit harus puas finish di posisi 5 dan 6.

Hasil race Brno:
1. Dani Pedrosa. Repsol Honda.
2. Jorge Lorenzo. Movistar Yamaha.
3. Valentino Rossi. Movistat Yamaha.
4. Marc Marquez. Repsol Honda.
5. Andrea Iannone. Pramac Ducati.
6. Andrea Dovizioso. Ducati.
7. stefan Bradl. LCR Honda.
8. Aleix Espargaro. Forward Yamaha.
9. Bradley Smith. Tech3 Yamaha.
10. Alvaro Bautista. Gressini Honda.

Thursday, 26 June 2014

Musim Emas Dani MotoGP Dani Pedrosa

Siapa yang tidak tahu kalau Dani merupakan anak emas Honda sejak mengikuti ajang balap internasional, yang di mentori Alberto Puig.


Awal kejayaan dan memuncaknya karir Dani tepatnya tahun 2003 saat dia berhasil menjadi juara dunia 125cc 2-tak (sekarang moto3). Berlanjut debutnya ke kelas 250cc 2-tak (sekarang moto2 600cc) di tahun 2004, dengan naungan Telefonica Movistar Honda Junior, dan menjadi juara dunia di tahun debutnya itu. Tahun berikutnya 2005, Dani tetap bertahan di kelas 250cc dan tetap berpanji Telefonica Movistar Honda Junior. Di musim kedua ini gelar juara dunia berhasil diraih untuk kedua kalinya tanpa hambatan yang berarti.

Tahun 2006 Dani naik kelas ke motoGP di tim Repsol Honda. Awalnya Dani sempat menjadi rebutan antara Repsol Honda dan Telefonica Movistar Honda (Gressini Honda). Kedua tim merupakan sponsor besar yang berasal dari Spanyol. Dani memilih untuk ke Repsol Honda karena memang berstatus tim pabrikan.

Dari musim 2006 sampai sekarang 2014, tepatnya sudah 9 musim Dani di tim pabrikan, tetapi Dani tidak berhasil menggenggam gelar juara dunia. Dani hanya bisa menggangu rider papan atas lainnya, nisa dikatakan Dani merupakan rider spesialis runner-up. Tetapi Dani sempat menunjukkan taringnya sebagai rider juara dengan memenangi 7 seri dari total 18 di musim 2012. Kemenangan ini merupakan kemenangan terbanyak 2012 dibanding dua rival terdkatnya, yakni Casey Stoner dan Jorge Lorenzo. Lorenzo memenangi 6 seri, sisanya 5 seri dipegang oleh Stoner. Ya, selama musim 2012, praktis podium pertama selalu dihuni oleh 3 rider teratas tadi.

Kemenangan yang banyak direnggut oleh Dani terjadi karena beberapa faktor, antara lain:
  1. Cederanya Casey Stoner. Musim 2012 adalah musim terakhir bagi Casey untuk berlaga di motoGP. Pada musim terakhirnya ini, Stoner yang menyandang sebagai juara bertahan, mengalami cedera yang mengakibatkan absen di beberapa seri dan digantikan oleh rider WSBK Jonathan Rea. Dalam keadaan ini otomatis beban banyak tim ditanggung Dani, yang saat itu performa Lorenzo juga sangat strong.
  2. Motivasi dari kritikan juara GP500 Kevin Scwants. Kritikan pedas terlontar dari rider gaek Suzuki GP500, Kevin Schwants, yang mengatakan bahwa Dani tidak akan pernah menjadi seorang juara dunia motoGP meskipun sudah lama membela tim pabrikan. Kritikan Schwants langsung di balas oleh manajer sejaligus mentor Dani, Alberto Puig. Berikut beberapa kutipan kritikan Schwants dan pembelaan Alberto :
Schwants : "Dani perlu mencapai level yang lain. Saya menyukainya, dia telah menjadi pembalap pabrik Honda selama delapan tahun dan tak pernah memenangi sesuatu (gelar juara dunia). Saya ingin dia membuktikan kalau saya salah (di masa mendatang), tetapi saya tak yakin dia mampu melakukannya".

Alberto : "Mengatakan Dani tak memenangi apapun selama delapan tahun merupakan tipikal orang yang tidak tahu apa yang dikatakannya dan terutama, itu sangat tidak sopan'.

Alberto menambahkan bahwa, seprti Schwantz, Dani mengalami banyak cedera - kemudian mengalihkan perhatin kepada gelar kelas 500cc yang diraih Schwantz.

Alberto : "Tuan Schwantz, Dani belum memenangi ini (juara dunia motoGP), tetapi dengarkan apa yang saya katakan kepadamu bahwa Anda tidak akan seperti... Anda  mendapatkan gelar itu (1993), tetapi Anda memenangi karena Wayne Rainey celaka di Misano dan berhenti berlomba. Jika tidak, Anda tidak akan mendapat gelar itu".
"Anda seorang pembalap hebat, super spektakuler, tetapi merujuk hasil-hasilnya, Anda selalu berada dibawah bayangna dari, pertama Eddie Lawson dan kemudian secara permanen dari Rainey".

Kemudian mengenai kontribusinya kepada Dani, Alberto mengatakan. "Sejak saya pensiun dari kompetisi, saya bekerja keras untuk membantu para pembalap, terutama Dani, juga pembalap dalam waktu tertentu Seperti Casey Stoner, Toni Elias, Alvaro Bautista, Marc Marquez, dan Julian Simon. Dan semua dari mereka sudah juara dunia".

"Anda tuan Schwantz, sudah memiliki sekolah balap di Texas selama bertahun-tahun untuk membantu anak-anak berlomba, dan sampai hari ini, tak ada yang berhasil bahkan lolos kualifikasi untuk ikut lomba do Eropa. Tidak ada sama sekali, dalam hal ini tak ada kesuksesan".

Alberto mengakhiri dengan sebuah cerita ketika dia dan Schwantz bertarung di trek yang sama, pada race kelas 500cc di sirkuit Hockenheim GP Jerman tahun 1994. Mick Doohan meraih kemenangan, dengan Alberto, yang saat itu juga membela Honda, finis di podium ketiga, kurang dari dua detik dari Schwantz rider Suzuki.

"Pada 1994 aya merasa terhormat berbagi podium dengan Anda dan Mick Doohan di Hockenheim. Dalam balapan itu Honda tunggannganku lebih cepat dibandingkan Suzuki, dan saya mengambil keuntungan untuk melewati di lintasan lurus yang panjang, hingga kita mencapai tikungan S, saat pengereman Anda lebih baik. Pada akhirnya di podium, saya merasa sangat terhormat dan mengagumi Anda, untuk seseorang yang baru saja mengajariku bagaimana mengerem saat limit dengan sebuah motor balap. Sayang, setelah membaca pernyataanmu, rasa hormat yang lahiir dalam sebuah hari yang dingin di Hockenheim pada 1994 lenyap semua".
Sumber kutipan dari Kompas.com

Wah, wah, sungguh pernyataan pedas yang dilontarkan balik oleg Alberto. Balik lagi ke bahasan awal.

Berikut data pemenang selama motoGP musim 2012 :
  1. Losail, Qatar. Lorenzo
  2. Jerez, Spanyol. Casey
  3. Estoril, Portugal. Casey
  4. Le Mans, Prancis. Lorenzo
  5. Catalunya, Spanyol. Lorenzo
  6. Silverstone, Inggris. Lorenzo
  7. Assen, Belanda. Casey
  8. Mugello, Italia. Dani
  9. Sachsenring, Jerman. Lorenzo
  10. Laguna Seca, USA. Casey
  11. Indianapolis MS, USA. Dani
  12. Brno, Rep Ceko. Dani
  13. Misano, Rep San Marino. Lorenzo
  14. Aragon, Spanyol. Dani
  15. Motegi, Jepang. Dani
  16. Sepang, Malaysia. Dani
  17. Philips Island, Australia. Casey
  18. Valencia, Spanyol. Dani
Pada dua seri akhir, tepatnya di Philip Island, Dani terjatuh dan tidak dapat melanjutkan race, sehingga Lorenzo mengunci gelar juara saat itu. Memang dalam musim yang kesembilan bersama Repsol Honda, Dani belum membuahkan satu pun gelar juara dunia motoGP. Selalu menjadi runner-up teammate-nya di Repsol. Tetapi siapa sangka kalau di lain waktu Dani dapat meraihnya dengan bendera lain motor (Honda)? Ya, semoga saja.

Salam Biker Nusantara !

Tuesday, 24 June 2014

Dani Pedrosa ft. Casey Stoner


Lhoh ? Kenapa judulnya pakai 'ft' (featuring), kok bukan 'vs' (versus)? Ya, CZL sengaja mengetikan ft agar tidak biasa, haha.. Kalau vs (versus) kan udah biasa. Kali ini coba ulas keunikan yang ada antara Dani Pedrosa dan Casey Stoner, versi CZL tentunya. Kalau ada yang kurang sesuai kan gak papa, wong namanya opini.

Dari tanggal lahir kedua rider Honda ini, udah unik. Tanggal 29 September 1985 di Sabadell, Spanyol, lahirlah Dani, selang 17 hari kemudian di benua yang berbeda, Australia tepatnya, lahir Casey. Yup, selisih keduanya hanya 17 hari.

Dani-Casey 2012
Masih ngatkah motoGP musim 2012? Saat Dani dan Stoner bernaung dibawah atap yang sama, Repsol Honda. Dani memakai nomor 26 dan Casey memakai nomor 27, bagi sebagian orang ini merupakan satu keunikan tersendiri. Nomor itu bukan atas kehendak dari Honda, tetapi merupakam nomor andalan masing-masing. Nomor 26 Dani diberikan oleh mentornya, Alberto Puig, yang sekarang ditugaskan HRC menangani pembalap muda asia. Sedang nomor 27 Casey konon karena Casey mengidolakan Mick Doohan pada saat awal Doohan di kelas 500cc.

250cc 2005
Keduanya hanya dua tahun bersama dalam satu tim di motoGP. Dan dalam tahun yang kedua (2012) yang kalau bisa dikatakan mereka merupakan rekan yang solid, bukan team order lho ya.. Walaupun gelar juara dunia digenggam Jorge (Lorenzo), tetapi Dani berhasil mengemas kemenangan terbanyak diantara ketiganya, yakni menjuarai 7 seri dari 18 seri 2012, Jorge dapat 6, sedang sisanya 5 juara dicatatkan oleh Casey. Ya, musim 2012 hanya 3 rider itu yang menguasai puncak podium. Bisa dikatakan tahun 2012 merupakan capaian terbaik Dani di kelas motoGP (lebih lengkap akan di bahas di post selanjutnya).
250cc 2005

Sebelum berlaga di kelas motoGP Dani dan Casey merupakan rival di kelas 250 cc 2-tak musim 2004-2005. 2005 Dani menunggangi Honda, sedang Casey memakai Aprilia. Kemenangan sering diraih Dani dengan NSF-nya hingga dapat gelar juara dunia 2 kali berturut-turut 2004-2005. Sebelumnya Dani dan Casey juga pernah berpanji Telefonica Movistar Honda, yakni  125cc Spanish Series 2001.



Salam Biker Nusantara !

Sirkuit Assen Belanda

Gelaran balap motor roda dua motoGP dari negeri matador, Spanyol 15 Juni lalu beranjak ke negeri kincir angin Belanda, manalagi kalau bukan sirkuit Assen. Ya , tepatnya seri Assen Belanda akan dihelat pada tanggal 28 Juni. Kok tanggal 28 Juni? Kenapa ? Kan tanggal 28 ntu hari Sabtu? Yup, jadwal motoGP di Assen s
elalu pada hari Sabtu, karena konon pada hari Minggu masyarakat setempat memfokuskan hari Minggu untuk beribadah. Religius banget ya? Walau ada even internasional mereka tetap memprioritaskan ibadah.

Assen merupakan salah satu sirkuit yang unik. Lintasan yang berjarak 3 jam dari Kota Amsterdam ini terbilang sirkuit yang sempit, memiliki trek lurus yang teramat pendek Dan mengharuskan karateristik roda yang berbeda, kompon roda sebelah kanan dibuat lebih keras dibanding sisi kiri karena Assen tipikal sirkuit dengan 11 tikungan ke kanan dan 6 ke kiri. Assen juga dijuluki 'katedralnya motoGP', karena merupakan sirkuit tertua yang telah digunakan motoGP sejak tahun 1949.

Semenjak dulu, karakter motor Yamaha yang dianggap cocok dengan karakteristik sirkuit ini. Karena M1 memiliki chasis yang lentur, mudah melahap chicane sempit. Tetapi jangan melupakan Honda yang mulai 2011 telah mempatenkan SSG ( Seamless Shift Gearbox) dan merancang chasis yang lebih lunak. Apalagi Honda sangat berkusa di 7 seri yang telah digelar lewat rider muda Marquez.

Salam Biker Nusantara !

Saturday, 21 June 2014

Transfer pembalap 2015

Gelaran motoGP masih baru tujuh seri berlalu, masih menyisakan sebelas laga dari total delpan belas race selama musim 2014. Tetapi isu kepindahan para rider kelas para raja sudah ramai berhembus. Dan pastinya yang paling ramai tentang rumor kepindahannya yaitu Jorge Lorenzo dan Dani Pedrosa. Sejak dua tahun lalu, pensiunnya Casey Stoner, vice president HRC, Shuhei Nakamoto ngebet ingin menculik Lorenzo dari kubu Yamaha. Hohe menolak dengan halus dengan mengatakan masih betah di Yamaha dan ingin menjadi salah satu legenda Yamaha. Tetapi, tidak menutup mata akan kepindahannya ke Honda (Repsol) jikalau Yamaha M1-nya tidak kompetitif lagi. Sampai seri ketujuh ini prestasi Lorenzo juga tak seperti musim sebelumnya, paling terlihat kompetitif pada race Mugello, Itali 1 Juni tiga pekan yang lalu. Dan pastinya Nakamoto akan terus menggoda untuk hengkang ke Honda, apalagi dengan kondisi saat ini Honda RC213V sangat mumpuni.

Sementara untuk Dani Pedrosa yang musim ini merupakan musim kesembilannya bersama Repsol Honda, tak kunjung juga mempersembahkan gelar juara dunia, tetap menjadi alasan kuat untuk menendang Dani dari kursi Repsol Honda. Meskipun beberapa wawancara kepada Livio Suppo maupun Nakamoto mereka tetap memprioritaskan Dani ketimbang menggaet Lorenzo. Pedrosa kembali menunjukkan taringnya saat berlaga di kandang sendiri di Catalunya 15 Juni kemarin. Ya, seri Catalunya kemarin memberikan sedikit angin segar kepada Pedrosa, yang mendapat pujian dari Nakamoto, tetapi tetap tidak mengamankan posisinya di Repsol Honda. Seiring dengan comeback-nya Suzuki ke motoGP musim 2015, Pedrosa menjadi salah satu rider bidikannya. Memang rumit, apalagi bagi fans Pedrosa. Yang kalau bisa kita ingat, Pedrosa merupakan anak emas Honda mulai kelas 125cc. Hingga naik kelas 250cc Pedrosa berpanji Telefonica Movistar Honda, yang juga nemplok logo Repsol pada Honda NSF-nya. Saat naik kelas motoGP Pedrosa sempat menjadi rebutan antara Repsol Honda dengan Movistar Honda (tim Gressini). Pedrosa berlabuh pada Repsol yang memang notabene merupakan tim utama. Movistar ngambek dan cabut dari motoGP.

Sedang 'baby allien' Marquez aman, telah diikat oleh Repsol Honda sampai musim 2016 dua bulan lalu. Dan Valentino juga nampaknya aman di Movistar Yamaha meski belum teken kontrak.

Sementara rider lain yang tak kalah dilema yakni pembalap Ducati Andrea Dovizioso. Dovi mendapat tiga opsi, bertahan di Ducati, menerima lamaran Gressini Honda atau Suzuki. Prioritas Dovi ya pada tim pabrikan, karena part motor dan para mekaniknya pasti yang terbaik. Dalam hal ini  Ducati dan Suzuki yang posisinya sebagai tim pabrikan, tetapi semua orang juga tau Ducati sulit untuk dijinakkan, bahkan oleh The Doctor sekalipun, yang hanya bisa dua kali podium 3 selama dua musim di Ducati. Sedang untuk memilih Suzuki, Dovi juga tidak tidak menganalisa tes yang dilakukan oleh Randy de Puniet, kurang yakin apakah Suzuki bisa lebih kompetitif dari Ducati. Pada Gressini Honda akan menggantikan posisi Alvaro Bautista, memang akan mendapatkan motor layaknya motor Marquez, tetapi tim tetap berstatus satelit.

Rekan satu tim Dovi, Cal Crutchlow mulai frustasi dengan Ducati. Tujuh seri berlalu Cal menempati klasemen papan bawah, bahkan kalah dari dua rider Pramac Ducati, Andrea Iannone dan Yonny Hernandez. Sebenarnya posisi Cal di Ducati aman sampai musim 2015, tetapi Cal mulai tidak kerasan di Ducati. Cal juga merupakan satu rider bidikan Suzuki untuk motoGP 2015.
Test Suzuki oleh Randy de Puniet

Salam Biker Nusantara !

Friday, 30 May 2014

Perang Gengsi Seri Negeri Pizza

Dua hari lagi gelaran akbar balap motor dunia motoGP beranjak ke 'negeri pizza' Italiano. Ya, sirkuit Mugello tepatnya, dimana sang legenda hidup Valentino rossi menjadi tuan rumah sekaligus menjadi sirkuit favoritnya. Nih sirkuit juga menjadi favorit CZL saat main game Ferrari Virtual Race. Hihi.. Curcol dikit... Rumahnya Rossi dengan fans fanatiknya, yang lebih spesial yakni tersedianya tribun khusus untuk fans 'Vale Yellow'.


Seri keenam ini merupakan pertaruhan antara Marquez dan Rossi. Marquez berambisi melanjutkan kemenangan beruntun keenamnya, lima seri sebelumnya telah sukses 'dirampas' olehnya. Dengan jiwa mudanya yang masih membara, skill yang mendukung, serta motor Honda RC213V yang tangguh, Marc berambisi memecahkan rekor-rekor lama dan membuat berbagai rekor baru guna mencatatkan namanya sebagai salah satu legenda motoGP.

Sedang Rossi yang mulai menemukan setting yang pas untuk si M1 pastinnya membidik podium puncak di kandang sendiri. Tercatat rekor sang legenda hidup tujuh musim berturut-turut merajai podium Mugello, yakni tahun 2002 hingga 2008. Dominasi The Doctor di renggut oleh Casey Stoner pada musim 2009 yang saat itu masih berpanji Ducati. Tahun 2009 mahkota Mugello berpindah ke tangan Dani Pedrosa. Sedang tiga musim setelahnya, 2011-2013 podium digenggam Jorge Lorenzo.

Meski prediksi utama pada pertarungan Marc dan Rossi, tetapi Pedrosa dan Lorenzo tetap tidak dapat diremehkan begitu saja. Dani Pedrosa juga memiliki track record yang tidak buruk di Mugello, lewat beberapa kali aksi pole-nya. Sementara Lorenzo yang beberapa race terakhir melempem juga memiliki catatan manis yakni tiga musim beruntun juara di Mugello 2011-2013.

Untuk klasemen sementara perolehan poin setelah seri kelima Le Mans:
1. Marc Marquez. Honda. 125 poin
2. Dani Pedrosa. Honda. 83 poin
3. Valentino Rossi. Yamaha. 81 poin
4. Andrea Dovizioso. Ducati. 53 poin
5. Jorge Lorenzo. Yamaha. 45poin
6. Stefan Bradl. Honda. 39 poin
7. Pol Espargaro. Yamaha. 38 poin
8. Aleix Espargaro. Forward Yamaha. 37 poin
9. Bradley Smith. Yamaha. 34 poin
10. Alvaro Bautista. Honda. 26 poin
11. Andrea Iannone. Ducati. 25 poin
12. Nicky Hayden. Honda. 23 poin
13. Hiroshi Aoyama. Honda. 21 poin
14. Scott Redding. Honda. 18 poin
15. Yonny Hernandez. Ducati. 16 poin
16. Cal Crutchlow. Ducati. 15 poin
17. Karel Abraham.Honda. 9 poin
18. Colin Edward. Forward Yamaha. 7 poin
19. Danillo Petrucci. ART. 2 poin
20. Hector Barbera. Avintia. 2 poin
21. Broc Parkes. PBM. 1 poin

Sunday, 18 May 2014

Hasil MotoGP Le Mans Perancis 2014


Seperti yang banyak diprekdisikan, untuk yang kelima kalinya secara beruntun Marquez merajai podium. Cuaca lintasan Le Mans yang biasanya tidak dapat ditebak, wet atau dry race, tidak untuk hari ini yang cerah. Sehingga anggapan atau prediksi kalau terjadi wet race akankah Marc tetap mampu meyentuh finish pertama.

Awal start formasi angsung beracak, Dovizioso yang start dari posisi tiga mengawali start dengan sempurna, begitupun dengan The Doctor. Beberapa kali duo Italiano ini, Rossi dan Dovi saling salip-menyalip dalam tempo waktu yang cepat. Terlihat pit board Rossi dan Pol Espargaro muncul tiap lap-lap awal, karena ketatnya race. Sementara Marquez yang mengawali dari posisi terdepan sempat tercecer ke posisi 7. Nasib tidak beruntung di alami Kentucky Kid Nicky Hayden yang tidak sengaja tersenggol motor Iannone pada lap pertama. The little spaniard, Dani Pedrosa tidak mengawali start dengan bagus, yang start dari posisi 9.

Marquez yang sempat tercecer mulai ngotot untuk merangsek ke posisi depan. Dan dalam beberapa lap saja sudah pada posisi dua dibelakang Rossi. Uniknya, Marc berhasil mengovertake rider di depannya pada chicane, tikungan S kecil yang sama tiap lap-nya. Harapan untuk melihat head to head antara Marc dengan Pol Espargaro terkubur sirna. Ya, keduanya adalah rival berat pada kelas moto2 sebelum Marc naik kelas. Setelah disalip Marc, tidak ada perlawanan yang diberikan oleh Pol. Entah karena spek motor atau faktor lain. Hal serupa juga terjadi saat Marc mengovertake Vale saat Vale melebar keluar dari racing line. Tidak ada pertarungan sengit antar kedunya, sampai Marc dapat membuat GAP sampai 3.6 detik di depan Vale.

Performa yang menonjol diperlihatkan para rider muda. (Stefan) Bradl sempat pada posisi dua dalam bebrapa lap awal, sebelum pada pertengahan race melebar dan tercecer merelakan podium di depan mata. Begitu pun Pol Espargaro yang bisa bertahan pada posisi 4 besar, pencapaian terbaiknya musim ini. Sementara (Alvaro) Bautista berhasil menyabet podium pertamanya musim ini, dengan finish di urutan ketiga.

Hasil race motoGP Le Mans Perancis:
1. Marc Marquez. Repsol Honda Team. Lap 27
2. Valentino Rossi. Movistar Yamaha MotoGP. +3.389
3. Alvaro Bautista. Go&Fun Honda Gressini. +5.142
4. Pol Espargaro. Monster Yamaha Tech3. +6.192
5. Dani Pedrosa. Repsol Honda Team. +6.714
6. Jorge Lorenzo. Movistar Ymaha MotpGP. +8.829
7. STefan Bradl. LCR Honda MotoGP. +12.978
8. Andrea Dovizioso. Ducati Team. +23.882
9. Aleix Espargaro. NGM Forward Racing. +24.295
10. Bradley Smith. Monster Yamaha Tech3. +24.633
11. Cal Crutchlow. Ducati Team. +26.902
12. Scott Redding. Go&Fun Honda Gressini. +39.754
13. Yonny Hernandez. Energy T.I Pramac Racing. +43.173
.
Nantikan seri berikutnya tanggal 1 Juni beranjak ke negeri pizza, sirkuit mugello Italia.

Saam Biker Nusantara!

Saturday, 17 May 2014

Hasil Kualifikasi Q2 MotoGP Le Mans Perancis 2014

We O we. Kesannya we o we be ge te, alias wow banget. Gimana tidak? Marquez mendapatkan pole position lagi untuk yang kelima kalinya secara beruntun. Dan kalau entar saat race juga berhasil finish pertama, tercacat lima kali menang awal musim secara beruntun juga, membuat rekor baru tuh bocah. Pantas bila disebut The Record Breaker, seperti yang udah pernah dibahas dulu pada postingan The Record Breaker Mark Marquez. Sementara rookie Pol Espargaro berhasil menyodok ke tempat kedua. The Doctor dan Hohe juga tidak berkutik banyak, yang menempati posisi 5 dan 6. Serta The Spaniard Depe (Dani Pedrosa) bukan Dewi Persik lho yaa, terjerembab pada posisi 9.

Wah wah kalau begini terus sepanjang musim 2014 ini, bakal sangat hambar terasa. Kira-kira tuh "Baby Allien" dikasih makan apa yah? Atau motornya yang memang superior tanpa tandingan? Atau ada energi mistis yang menaunginya? Hahaha, jadi malah nggambyar kemana-mana, memang eddiaaan tuh bocah. Yah, to the point aja ya, berikut hasil kualifikasi Q2, monggo disimak.

1. Marc Marquez. Repsol Honda Team. 1:32.042
2. Pol Espargaro. Monster Yamaha Tech3. 1:32.734 +0.692
3. Andrea Dovizioso. Ducati Team. 1:32.755 +0.713
4. Stefan Bradl. LCR Honda MotoGP. 1:32.846 +0.804
5. Valentino Rossi. Movistar Yamaha MotoGP. 1:32.873 +0.831
6. Jorge Lorenzo. Movistar Yamaha MotoGP. 1:32.899 +0.857
7. Alvaro Bautista. Go&Fun Honda Gressini. 1:33.006 +0.964
8. Aleix Espargaro. NGM Forward Racing. 1:33.015 + 0.973
9. Dani Pedrosa. Repsol Honda Team. 1:33.023 + 0.981
10. Bradley Smith. Monster Yamaha Tech3. 1:33.058 +1.016
11. Andrea Iannone. Pramac Racing. 1:33.102 +1.060
12. Cal Crutchlow. Ducati Team. 1:33.315 +1.273

Dalam urutan diatas dapat kita lihat posisi 10 saja hanya terpaut 1 detik dari pole position. Memang meskipun para rider papan tengah yang tidak pernah atau jarang podium pun, mereka itu adalah rider kelas dunia. Jadi, tidak sepantasnya kita, yang hanya sebagai penonton, untuk mengejek atau mengolok-olok, rider tak punya nyali, suka mewek, atau yang lainnya. Kita tunngu race-nya besok.

Salam Biker Nusanatara!

Friday, 16 May 2014

Yamaha Dan Ducati Dibalik Ketangguhan Honda (Part-2)

Ok, baru sempetin nulis part kedua nih, faktor dikejar kerjaan. Bila pada postingan sebelumnya saya udah bahas singkat tentang sistem Crossplane Crankshaft pada mesin Yamaha motoGP, pada link Yamaha Dan Ducati Dibalik Ketangguhan Honda (Part-1). Maka tulisan kali ini giliran Desmodromic-nya kuda Italia.

Ducati mulai menggunakan sistem ini mulai tahun 50-an, ketika Fabio Taglioni menemukan sistem buka tutuo ktup revolusioner ini. Mesin 4 tak memiliki sistem yang sedikit lebih kompleks, mereka menggunakan sistem katup untuk mengatur letupan bahan bakar pada bilik pembakaran mesin. Pada mesin konvensional, sistem ini menggunakan pegas untuk menbuat katup membuka dan menutupsesuai gerakan piston dan durasi crankshaft. Sistem ini mudah dan efektif, namun memiliki kelemahan saat putaran mesin mencapai kecepatan tinggi yang mengakibatkan daya pegas per tidak dapat mengimbangi gerakan piston yang lebih cepat.

Hal ini seperti tidak akan terjadi pada sistem

desmodromic karena konstruksi buka tutup klep digerakkkan oleh rocker armatau tuas dinamik yang bergerak sesuai perputaran crankshaft. Sistem ini sangat sederhana, namun membutuhkan akurasi konstruksi yang sangat tinggi untuk memastikan mesin mampu memproduksi daya maksimal. Keuntungan dari desmodromic ini adalah buka tutup klep dapat melayani kecepatan piston sampai batas yang jauh lebih tinggi karena semakin cepat piston bergerak maka semakin cepat pula klep memproduksi gaya yang sesuai dan memastikan mesin mampu memproduksi pembakaran yang maksimal disetiap putaran mesin.

Desmodromic telah mengantarkan Ducati menjadi ikon motor dengan performa mesin dahsyat dan durabilitas yang snagat tinggi. Tidak hanya di motoGP, namun ducati terlihat lebih superior pada ajang balap dunia lain World Superbike (SBK) dimana mereka dengan tangguh mampu mengasapi pabrikan Jepang dengan rekor kemenangan yang belum terkalahkan. Lebih mengherankan lagi karena mereka melakukannya dengan mesin 2 silinder konfigurasi L-Twin yang secara spesifikasi lebih inferior dibanding mesin inline 4 silinder milik pabrikan Jepang.

Ya, meskipun pada motoGP Ducati tidak terlalu berkuasa, tetapi Ducati memiliki motor yang gahar, yang juga disegani oleh pabrikan lain.
Sekian singkat tulisan kali ini.

Salam Biker Nusantara!

Thursday, 15 May 2014

Yamaha Dan Ducati Dibalik Ketangguhan Honda (Part-1)

Empat seri gelaran balap motor motoGP telah bergulir. Kesemua podiumnya dipuncaki oleh rider nomor 93 Mark Marquez dengan motor Hondanya. Ya, beberapa musim terakhir Honda terlihat paling "gagah" di motoGP. Semenjak era awal dibuatnya SSG (Seamless Shift Gearbox) musim 2011, lalau pengaplikasian teknologi robot Asimo pada RC213V.

Tetapi, dibalik kegagahan Honda, Yamaha dan Ducati yag sampai saat ini masih meraba-raba untuk mengungguli Honda, memiliki ciri khas sendiri. Yamaha memiliki ciri khas mesin Crossplane Crankshaft. Sementara Ducati dengan Desmodromic-nya.

Crossplane Crankshaft Yamaha
Crossplane Crankshaft adalah poros engkol dengan desain silang atau dengan kata lain memiliki durasi pengapian 90 derajat. Konstruksi seperti ini sebenarnya bukan yang pertama kalinya digunakan pada mesin pembakaran internal. sebelumnya sistem seperti ini pernah diterapkan Cadylac pada muscle car bermesin V8 milik mereka. Yamaha menerapkan crossplane crankshaft lebih untuk mendapatkan gaya tolak atau torsiyang lebih merata serta redaman yang sangat tinggi pada area crankshaft atau poros engkol.

Hal ini bru diadopsi karena biasanya mesin 4 silinder menerapkan pola pengapian 180 derajat, sehingga pola pembakaran dapat terjadi dengan meratadan durasi yang bergantian mulai silinder pertama sampai silinder keempat. Hal ini sangat berbeda dengan mesin sistem crossplane pembakaran terjadi bergantian antara empat silinder namun dengan durasi yang tidak meratadikarenakan desain poros engkol yang bersilangan. Hasilnya, Yamaha M1 mampumelakukan proses berbelokdan berganti arah dengan sangat stabildan kontrol yang maksimal.

Saat pertama kali mesin prototype inline 4 silinder dengan crossplane crankshaft di uji coba,test rider membuat pernyataan yang membuat direktur teknis, Masao Furusawa, menjadi sangat tertegun. Test rider mengatakan bahwa Yamaha M1 desain baru tersebut terasa sangat lambat daripada model sebelumnya.

Namun dari data yang dimiliki dalam pencatatan waktu tiap putaran, M1 baru tersebut justru membuat pencapaian yang lebih baik dibanding model lama. Hal ini terjadi karena sistem crossplane sangat lembut dan jauh lebih halus, sehingga rider tidak merasakan sisi agresif bahkan merasa M1 baru sangat lamban

Untuk Desmodromic Ducati ditunggu dipostingan selanjutnya ya.

Salam biker Nusantara!

Sunday, 11 May 2014

Desain Honda RCV Dari Tahun Ke Tahun

Well, lihat pict ini,









Dengan berbagai regulasi yangdirubah oleh promotor motoGP, Dorna, desain Honda RCV berubah dari waktu ke waktu. Bukan hanya milik Honda, Yamaha M1, Ducati GP series pun akan menyusul saya coba post di lain waktu.

RCV konsep yang diujji coba langsung oleh Sang Maestro Valentino Rossi.














RC211V 2001
Musim 2001 meerupakan musim yang unik dimana Honda menurunkan dua jenis mesin dalam satu race, RC211V 4tak terbaru dan NSR500 2tak.

RC211V Valentino Rossi 2003


RC211V yang digeber Sete Gibernau, yang dulu sempat jadi rival utama Vanetino.




RC211V 2005


RC211V 2006 Dani Pedrosa




RC212V
Perubahan regulasi kapasitas mesin dari 990cc menjadi 800cc merombak desain RCV. Dengan buritan yang pendek, motor ini kelihatan mungil. Sayang desain yang paling beda ini hanya bertahan selama satu musim.









RC212V 2008
Honda kembali menaruh muffler pada bawah ekor motor pada RC212V 2008. Sampai musim 2011 desain tetap sama, hanya ada perubahan minor saja.

RC213V 2012

Musim 2012 mesin kembali memakai 1liter.

RC213V 2013

Perubahan desain sponsor Repsol yang lebih fresh yang setelah lama tidak ada perubahan.

RC213V 2014
Tampak perubahan ada pada airscoop yang back to jadul layaknya nenek moyangnya dahulu.

Ya, dari waktu ke waktu, dengan adanya regulasi yang berubah-ybah tiap tahunnya, merubah juga desain motor Honda RCV series. yang dahulu tampak racy, nungging, sekarang tampak layaknya motor harian. :D

Sekian dulu, keburu kerja nih.

Salam Biker Nusantara!





 

Saturday, 10 May 2014

The Record Breaker Mark Marquez

Mark Marquez. Yap, pasti langsung tertuju pada rider muda yang berpanji Repsol Honda. Siapa sih yang tidak mengenalnya? Masih muda, berparas tampan, dan murah senyum. Pemuda yang fantastis baik musim pertama maupum musim keduanya di motoGP. Rider yang masa mudanya mengidolakan Valentino Rossi ini bahkan sudah memecahkan beberapa rekor yang telah dicacatkan oleh idolanya itu. Berikut akan di ulas beberapa rekor yang dibuat Mark.

Rekor-rekor utama dalam satu musim:
1. Rookie pertama di balap kelas primeryang langsung juara dunia di tahun perdananya. Rekor yang sama dipecahkan Kenny Roberts yang saat itu motoGP masih bernama 500 World Champion tahun 1978.
2. Juara termuda dengan usia 20 tahun 266 hari, memecahkan rekor Freddie Spencer yang menjuarai balap 500 di usia 21 tahun 258 hari pada tahun 1983.
3. Pembalap keempat dalam sejarah Grand Prix yang memenangi tiga kelas yang berbeda. Rider lain yaitu Mike Hailwood, Philread, dan Valentino Rossi.

Sementara untuk rekor-rekor lainnya:
- Total poin 334, poin tertinggi yang diraih seorang rookie dalam setahun.
- Pole position sembilan kali dalam satu musim, dimana belum ada rookie yang melakukannya.
- Berada di podium 16 kali, juga belum ada rookie dengan prestasi serupa.
- Rookie yang juara enam kali dalam setahun.
- Rookie pertama dan rider termuda yang memenangi 4 seri secara beruntun.
- Rookie termuda yang menang tiga kali mengungguli Kenny Roberts.
- Menang tiga kali berturut-turut termuda mengalahkan Freddie Spencer.
- Rookie termuda menang dua kali berturut-turut Mengalahkan Kenny Roberts.
- Menang dua kali beruntun dengan usia termuda mengalahkan rekor Freddie Spencer.
- Podium empat kali berturut-turut dengan usia termuda, memecahkan rekor Max Biaggi tahun 1998.
- Peraih podium tiga kali beruntun dengan usia termuda, rekor sebelumnya dipegang Jorge Lorenzo.
- Pemimpin klasemen termuda, memechkan rekor Jorge Lorenzo saat menang di Estoril Portugal 2008.
- Meraih dua podium di dua balapan pertama di kelas primer menyamai rekor Jorge Lorenzo.
- Kemenangan di Austin juga membuatnya menjadi pembalap termuda yang menang dalam tiga kelas yang berbeda, melewati rekor Dani Pedrosa di usi 20 rahun 227 hari yang saat itu dicetak di Shanghai China 2006.
- Pole position termuda yang dicetak di Austin ketika usia menginjak 20 tahun 62 hari. Rekor sebelumnya Freddie Spencer dengan usia 20 tahun 153 hari di Jarama 1982.
- Rider termuda memenangi balapan kelas primer (tercatat pada GP Amerika) pada usia 20 tahun 63 hari mengalahkan rekor Freddie Spencer saat itu usia 20 tahun 196 hari yang memenangi GP 500 di Belgia pada 1982.
- Pembalap termuda peraih fastest lap dalam kelas primer  di usia 20 tahun 49 hari. Rekor sebelumnya dicetak Freddie Spencer yang saat itu berusia 20 tahun 161 hari di sirkuit Misano pada 1982.
- Rider termuda keempat dalm sejarah yang finish podium di balap pembuka (saat itu Losail, Qatar) setelah Randy Mamola, Eduardo Salatino, dan Norick Abe.

Ya, Mark memang masih muda. Pasti masih akan memecahkan berbagai rekor seniornya dan membuat rekor-rekor baru.

Salam Biker Nusantara!

Perkembangan Era MotoGP

Yup yup yup... 4 seri motoGP telah berlalu yang kesemua serinya di juarai oleh rider muda Spanyol asal Repsol Honda Team, Mark Markuez. Pada musim 2013 kemarin Mark berhasil menjadi juara dunia pada tahun perdananya di motoGP. Dan pastinya bukan untuk yang pertama kalinya, banyak fans yang meng-compare (skill) antara Mark dengan (Valentino) Rossi. "Bagaimana ya kalo Marquez race di era Rossi dulu?" tanda tanya iseng para fans. Ada pula yang mencibir "Sekarang Mark hanya naik Asimo (robot humanoid buatan Honda, red), tinggal buka dan tutup gas doang!". Dan kalau doteruskan pasti tidak akan ada habisnya.

Oke, basic-nya MotoGP tidak hanya merupakan adu cepat saja, tetapi juga ajang para vendor pabrikan untuk adu teknologi, dalam hal ini teknologi dalam dunia roda dua. Lain halnya dengan Superbike, yang notabene motor produksi massal yang beberapa partnya diganti dengan part racing lalau dipakai balap. Nah, mulai ketemu kan titik masalahnya bahwa Mark tidak bisa langsung dibandingkan dengan Rossi secara langsung. Ada opini "Jaman Rossi dulu (tanpa kontrol elektronik yang berlebih) skill 80% sedang motor hanya 20%, sekarang skill rider 20% motor 80%".

Sebagai penikmat motoGP tidak sedikit yang beranggapan motoGP sekarang sudah tidak seseru dahulu, dimana dulu banyak aksi overtaking antar pembalap, dimana tikungan merupakan tempat seninya motoGP, bukan hanya sebagai stage para rider meng-overtake lawan tetapi juga stage dimana para rider sering highside kalau tidak memperhitungkan laju motornya. Pada era Vale dulu (ataupun sebelumnya), para pembalap memang dituntut paham betul karakter motor dan sirkuit, karena memang masih minimnya perangkat elektronik. Sehingga untuk rookie perlu belajar menunggang monster 500cc setidaknya 1-2 musim.

Balik lagi ke awal, motoGP memang diprioritaskan untuk adu teknologi. Dalam hal ini Dorna sebagai pihak penyelenggara juga mempertimbangkan sisi safety para pembalap. Sementara pihak factory fokus sebisa mungkin teknologi apapun bisa dituangkan pada si kuda besi. Kita ambil contoh simple saja yakni Honda. Pada 2006 Honda duluan memakai ride by wire yang konon katanya si rider tinggal buka dan tutup gas, tidak takut jatuh, Selanjutnya Honda menuangkan teknologi robot Asimo, perpaduan gyro dan akselerometer yang disebut inclinometer.

Nah, apa semua kontrol elektronik motoGP ingin dihilangkan/dikurangi, agar race jadi seru lagi? Sehingga keluar dari tujuan awal dibentuknya si motoGP. Atau dukung terus berkembangnya teknologi motoGP? Yang sebenarnya dilingkungan sekitar kita sudah bertebaran motor harian dengan jeroan hasil dari perkembangan motoGP. Seperti injeksi, forged piston-nya Yamaha, cross plane ala M1 pada Yamaha R1, desmosedici pada beberapa varian motor massal Ducati, dll.

Sekian dulu, semoga bisa bermanfaat.

Salam Biker Nusantara!